17 Oktober 2019 7:02 am

Ikatan Pelajar Muhammadiyah: Profil dan Gerakannya

Ikatan Pelajar Muhammadiyah: Profil dan Gerakannya



Ikatan Pelajar Muhammadiyah dalam perumusan konsep Muktamar XXI IPM terutama yang menyangkut dengan materi bahasan kali ini, sebagain besar berangkat dari penjabaran penting kondisi fenomena yang terjadi di tengah pelajar saat ini, dan tetap berpijak pada hasil – hasil penggalian potensi, capaian, serta pengalaman terbaik yang dimiliki oleh Pelajar Muhamamdiyah sebagai core gerakan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Oleh karena itu penting untuk memahami penjelasan-penjelasan pada bagian I sebelum ini sebagai bagian dari khazanah yang menyusun dasar-dasar asumsi materi ini secara keseluruhan hingga ke strategi bidang-bidang yang dibutuhkan IPM dan agenda aksi. Sebelum membahas konsep dasar Muktamar XXI IPM, ada baiknya kita membaca jalan panjang yang dilalui oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Serangkaian transformasi penting di tubuh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menjadi petunjuk bagaimana dinamika gerakan ini terus hidup. Dinamika tersebut tidak saja pada diskursus formal semacam keputusan Muktamar yang sifatnya internal organisasi, melainkan juga sikap IPM dalam merespon fenomena. Satu hal yang seringkali terlupakan adalah peran IPM dalam sejarah pembentukan identitas pelajar Muslim Indonesia. Peran tersebut terkoneksi kuat dengan sejarah benturan ideologis yang terjadi di arena kebudayaan populer. Gerakan Membaca, Gerakan Matikan TV, Gerakan Tolak UN, Gerakan Anti-Kekerasan Tanpa Kekerasan, Gerakan Komunitas Kreatif, hingga pelajar berkarya nyata adalah beberapa polarisasi eksperimentasi kebudayaan populer IPM. Tentu saja jika hari ini kelas menengah muslim tengah memanen kesadaran baru identitas pelajar Muslim, maka IPM tak bisa lepas dari proses tersebut. Dua tahun belakangan ini antara 2016 hingga 2018, eksperimentasi IPM semakin berwarna, yakni gerakan berbasis komunitas yang konsisten menunjukkan perhatiannya terhadap isu literasi serta pengembangan kapasitas diri pelajar.

Perkembangan gerakan pelajar di Indonesia sesungguhnya menerima cukup banyak tantangan seperti distribusi bahan literasi, kasus-kasus kekerasan yang dialami oleh pelajar, eksploitasi pelajar, kebijakan yang memicu kekerasan-kekerasan baru terhadap pelajar, hingga rekonstruksi pop culture yang menyajikan kelaziman teror, intimidasi, dan kekerasan pada pelajar. Sejak tahun 1945, bahan-bahan literasi banyak tertumpuk di kota-kota besar Indonesia. Jumlah rata-rata buku yang diterbitkan di Indonesia menurut data IKAPI hanya berjumlah 30.000. Hal ini berbeda dengan Inggris yakni sebesar 184.000, dan Amerika yang mencapai 304.912 publikasi. Kasus-kasus korupsi juga kerap menghantui pengadaan buku di Indonesia. Tantangan-tantangan yang dihadapi IPM bagaimana pun akan merefleksikan arti penting keberadaannya. Jika IPM tak mampu membangun dialektika terhadap tantangan-tantangan tersebut, bisa jadi IPM akan kehilangan perannya menyusul sejumlah gerakan pelajar yang redup ditelan pragmatisme. IPM harus mampu merumuskan siapa manusia sejatinya? Apa esensi serta eksistensinya di dunia? Ketika pertanyaan ini mampu dijawab, niscaya akan mempermudah IPM untuk mempertajam visi dan misi gerakannya.

Beberapa kali IPM melakukan berbagai terobosan untuk terus dapat hadir menebar kebermanfaatannya, dalam dua tahun terakhir ini, IPM mampu menunjukkan keseriusannya melakukan kopdar pegiat media pelajar, serta aktif mengedukasi kemampuan mengolah media pelajar untuk dapat mendistribusikan sumber informasi ke seluruh penjuru negeri. Dengan dua kali melakukan Literacy Camp, IPM mampu menunjukkan dapat terus berkontribusi melalui jejaringnya dalam jalan perjuangan literasi di Indonesia, tidak hanya itu, dua tahun terakhir ini IPM telah dapat menggerakkan kesadaran pelajar untuk peka terhadap isu – isu lingkungan dan kebencanaan melalui berbagai aksi baik di sosial media maupun di dunia nyata, sejalan dengan itu IPM juga terus melakukan kampanye tentang pentingnya kesehatan bagi pelajar millenial saat ini seperti dalam mengurangi dampak negatif Iklan Rokok bagi pelajar para generasi penerus bangsa, membudayakan olahraga sebagai instrumen penting kehidupan, membangun kesadaran kolektif pelajar untuk menjadi konselor sebaya bagi sesamanya, mendorong pengembangan pusat – pusat aktivitas seni budaya pelajar, membentuk, mendorong, serta melakukan akselerasi aktivitas – aktivitas entrepreneurship pelajar, serta berbagai macam upaya lainnya untuk mengembangkan kapasitas, minat, dan potensi pelajar.

Dengan banyaknya karya nyata yang lahir, tumbuh, dan berkembang di tubuh pelajar Muhammadiyah, sangat penting bagi IPM untuk terus meneguhkan segala pencapaian tersebut agar dapat terus mengembangkan apapun yang dimilikinya sebagai kekuatan penting dalam menggerakkan pelajar untuk menyikapi berbagai tantangan zaman yang ada. IPM harus mampu menggerakkan karya nyata melalui banyak strategi. Sebagai bentuk Era IPM yang baru bersandar pada Sharing dan kolaborasi dengan siapapun seluas-luasnya dalam rangka memperkaya khazanah gerakan.

Meskipun IPM tergolong gerakan lama, namun semangat terbarukan harus muncul dalam tiap denyut nadi para penggerak didalamnya yang tergolong dalam kelompok The Student Millenials. Menurut Yoris Sebastian dalam bukunya, ini merupakan kelompok millenial yang paling dekat dengan kemajuan zaman karena sejak lahir mereka sudah langsung terpapar oleh tekhnologi dan segala instrumen kemajuan zaman. Dengan kemampuan efisien, keingintahuan tinggi, serta banyaknya refrensi pada kelompok millenail ini, maka etos kolaborasi dan sharing yang dicanangkan pada Muktamar XX IPM tahun 2016 kemarin akan terus melekat dan memberi IPM banyak kesempatan dalam mengolah strategi-strategi gerakannya. Kesetiakawanan yang tinggi, serta kemampuan berkelompok pada kelompok millenial ini akan dengan mudah mendorong kehadiran banyaknya komunitas sebagai salah satu strategi gerakan IPM yang akan menjadi sumberdaya baru membantu menemukan solusi menghadapi berbagai tantangan. dengan Perkembangan gerakan sosial berbentuk komunitas dapat memberikan kesempatan bagi karya nyata IPM memperdalam gerakan Muhammadiyah yang kreatif, menjawab tantangan zaman, dan mampu mendorong sebuah perubahan sosial kedepan.

Sebagaimana melanjutkan kebijakan musyawarah sebelumnya, Karya Nyata IPM tidak akan lepas pada kemampuannya berkolaborasi dan berbagi. Melalui etos kolaborasi, IPM akan semakin memperkuat gerakannya sekaligus memperkuat berbagai inisiasi-inisiasi eksternal lainnya. kerja-kerja kolaboratif IPM harus dapat menjadi mitra kolaborasi yang setara. Hal ini untuk menghindarkan model kolaborasi yang selama ini diperankan oleh IPM misalnya dengan Negara yang selalu saja timpang. IPM memiliki kualitas-kualitas yang seharusnya menjadi kebanggaan aktivisnya; kekuatan massa aktif yang besar, dinamika yang terus dirawat dalam setiap Muktamar, gerakan pelajar dengan kordinasi yang kolektif-setara. Kualitas-kualitas itu harusnya menjadi identitas penting IPM ketika berhadap dengan mitra kolaborasi semacam Negara. Kualitas itu juga menjadi peluang IPM dalam memperkuat berbagai gerakan-gerakan berbasis komunitas yang diinisiasi oleh masyarakat sipil.

Melalui etos berbagi (sharing). IPM dapat menemukan kembali kesegaran cara-cara IPM berpartisipasi dalam transformasi sosial. Era baru yang tengah dihadapi oleh IPM adalah era distribusi informasi. Era sharing ditandai dengan munculnya ruang-ruang publik baru baik digital maupun non-digital. Perubahan ruang-ruang publik baru ini juga diikuti oleh perebutan arah diskursus. Maka etos sharing akan menjaga IPM dari kecenderungan yang sangat laten terjadi dalam perebutan arah diskursus yakni sikap pasif. Jika IPM tak mampu mengambil bagian dari perebutan arah diskursus, dengan mudah dapat ditenggelamkan. Pada tahun 2015 dapat menjadi titik balik era distribusi informasi ditubuh IPM dengan diluncurkannya aplikasi IPM berbasis sistem android smartphone, dan banyak lagi wujud sharing IPM sampai hari ini. etos berbagi IPM harus dibarengi oleh spirit berdaya aktivisnya. Artinya, masing-masing aktivis IPM memiliki caranya masing-masing dalam berpartisipasi. Aktivis IPM yang memiliki bakat dalam bidang teknologi tentu akan menentukan jalan sendiri dibandingkan dengan aktivis IPM yang menyenangi sastra. Sehingga dengan banyak nya jalan untuk berbagi dapat menjadikan IPM sebagai entitas yang produktif dalam menghasilkan berbagai karya – nyata yang bermanfaat.

Dengan dua etos tadi, dan dengan Perubahan konstelasi gerakan sosial menjadi komunitas harus menjadikan IPM sebagai rumah besar berbagai komunitas generasi millenial menghasilkan berbagai macam karya nyata saat ini untuk merespon berbagai fenomena yang terjadi. Disisi lain, Big data sebagai konsentrasi baru peradaban 4.0 dengan banyaknya muncul platform semacam petisi online misalnya merupakan cerminan dari pemutakhiran platform inisiasi model baru. Petisi online misalnya mendorong perubahan cara partisipasi banyak individu atau kelompok menembus batas-batas geografis. Tentu saja dengan berbagai kelemahan latennya, perubahan partisipasi individu atau kelompok melalui platform era baru ini tetap patut diperhatikan. harus dapat juga ditangkap dengan cantik oleh IPM saat ini dalam meneguhkan karya – karya nyatanya.

Generasi Berkemajuan ditandai oleh keberhasilannya menemukan ruang diri yang selalu kontekstual dengan semangat zaman. KH. Ahmad Dahlan menjadi contoh generasi muda yang berhasil mengejawantahkan etos kolaborasi dan etos berbagi yang sangat kuat bagi kemanusiaan. KH. Ahmad Dahlan tak segan-segan berkolaborasi dengan gerakan lainnya semacam Syarikat Dagang Islam (berdiri tahun 1905, kemudian berubah nama menjadi Syarikat Islam pada tahun 1906) atau Budi Utomo (berdiri tahun 1908). Begitu juga yang terjadi ketika KH. Ahmad Dahlan membangun komunikasi dengan Jami’atul Khair yang baru berdiri pada tahun 1919, lebih muda dari Muhammadiyah yang didirikan bersama para muridnya. Etos kolaborasi dan berbagi yang dirawat oleh KH. Ahmad Dahlan merupakan salah-satu topik yang seringkali kurang diapresiasi sebagai salah-satu faktor daya-tahan dan daya-kreatif Muhammadiyah sejak tahun 1912. Catatan penting dari contoh kerja kolaborasi dan berbagi KH. Ahmad Dahlan terletak pada orientasi kemanusiaan yang dibangunnya, bukan sekedar pada siapa mitranya. Bagi KH. Ahmad Dahlan, tujuan transformatif merupakan tujuan utamanya memperkuat Muhammadiyah dengan berkolaborasi dengan berbagai gerakan lain.

Karya-Nyata

Karya dalam KBBI merujuk pada makna pekerjaan / hasil perbuatan / buatan / ciptaan sedangkan nyata memiliki makna terang (kelihatan, kedengaran, dan sebagainya), jelas sekali, ketara, benar-benar ada, ada buktinya, berwujud, terbukti sehingga jika digabung akan menghasilkan makna hasil perbuatan yang terbukti dan benar – benar ada. Generasi muda (pelajar) dalam kelompok masyarakat dikategorikan sebagai generasi modern yang aktif bekerja, penelitian, dan berpikir inovatif, memiliki rasa optimisme dan kemauan untuk bekerja dengan kompetitif, terbuka, dan fleksibel. Beberapa hal diatas akan mendorong generasi muda saat ini menjadi generasi yang sangat aktif dalam menghasilkan ide – ide serta gagasan yang akan menjadi karya – karya baru bagi peradaban dunia.

Makna diksi “karya-nyata” yang digunakan kali ini terletak pada dua pertimbangan. Pertama, pada ranah internal organisasi dimana IPM selama 57 tahun terus menunjukkan peran – peran nya dalam menghadapi segala perkembangan zaman yang ada. Makna karya – nyata juga merujuk pada semangat IPM untuk menjadi rumah besar berbagai komunitas generasi muda dalam berkarya – nyata mewujudkan suatu perubahan sosial untuk mimpi di masa depan. karya nyata dapat dilihat sebagai proses IPM dalam melakukan Discovery baik dari segi history kelembagaan IPM, juga dari sisi tiap – tiap anggota serta penggerak yang ada di dalamnya hingga saat ini sebelum dapat menyusun berbagai macam strategi gerakan kedepannya sehingga diperlukan spirit meneguhkan untuk dapat menjadi refleksi bagi kita agar dapat terus memperkuat segala karya – nyata yang ada, lahir, dan berkembang saat ini.

IPM adalah organisasi non-profit yang berfungsi sebagai wadah pengembangan kapasitas pelajar harus dapat mengapresiasi segala karya – nyata sebagai upaya untuk mendorong replikasi yang bermakna bagi setiap anggota dan struktur yang tercermin dalam kebijakan-kebijakannya. Hal tersebut membentuk IPM dalam mengembangkan eksistensinya yang padat karya serta dapat menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar kita karena sebuah komunitas generasi haruslah memunculkan ide – ide inovatif dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di lingkungan sekitarnya dan mencari solusi yang efektif sehingga memungkinkan generasinya dapat merespon perubahan zaman dengan pemahaman yang matang dan visioner.

Generasi Berkemajuan

Generasi berkemajuan menurut Muhammadiyah, merujuk pada kelompok, atau komunitas yang “mendorong pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran” (amar ma’ruf dan nahi munkar). Generasi berkemajuan memanfaatkan etos kolaborasi dan etos berbagi sebagai caranya memperoleh inspirasi sekaligus memperkuat proses amar ma’ruf dan nahi munkar. Bercermin dari KH. Ahmad Dahlan, generasi berkemajuan merupakan kelompok, atau komunitas yang mampu berpikir mendalam atas kondisi realitas, potensi mengubahnya, dan cara memanfaatkan kekuatan yang tersedia. KH. Ahmad Dahlan memiliki visi mendalam terhadap kondisi masyarakat yang tertindas di bawah hegemoni suprastruktur baik yang dijalankan oleh kolonial maupun feodalisme para priyayi. Dengan demikian berpikir kritis-analitis melalui telah literasi yang mendalam akan menjadi landasan penting generasi berkemajuan.

Arti penting menjadi generasi berkemajuan bagi aktivis IPM terletak pada lima hal. Pertama, sebagai proses pemurnian tauhid, yang juga berarti purifikasi motif segala tindakan transformasi sosial sebagai bentuk pengabdian terhadap Allah Swt. Kedua, sebagai proses pembelajaran kembali nilai-nilai al-Qur‟an dan hadits yang mendorong inisiasi kreatif bagi ummat dalam rangka rahmatan lil alamin. Ketiga, pelembagaan inisiasi-inisiasi kreatif dalam rangka merawat keberlanjutan transformasi sosial sehingga mudah direplikasi. Keempat, berorientasi pada pembaruan-pembaruan yang mampu mendukung kebermanfaatan yang bermakna. Kelima, bersikap kolaboratif dengan berbagai pihak sebagai kehendak murni mendorong kemajuan kehidupan.


Kebijakan Program Jangka Panjang IPM 2014-2024


Program IPM bukan semata-mata rencana dan pelaksanaan seperangkat kegiatan yang praktis. Program IPM ialah perwujudan dari misi utama IPM yaitu :
“Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Adapun visi ideal (tujuan utama), misi ideal (misi utama), dan agenda aksi IPM diwujudkan melalui program sebagai berikut:

1. Visi Ideal IPM

Terwujudnya pelajar muslim yang berkemajuan

2. Misi Ideal IPM

a. Membebaskan pelajar dengan Tauhid yang murni berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.
b. Mencerdaskan pelajar dari kebodohan, dengan melakukan tradisi Iqra‟ dan keilmuan
c. Memberdayakan individu dan komunitas pelajar, dengan pendekatan apresiatif terhadap minat, bakat dan potensi pelajar.

3. Landasan Yuridis

Bahwa program Muhammadiyah dengan rangkaian kebijakan dan kegiatannya senantiasa berpijak pada:
a. Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber ajaran dan hukum Islam.
b. Mengindahkan falsafah dan dan dasar negara serta hukum yang sah dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.
c. Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Peraturan-peraturan yang berlaku dalam Persyarikatan.
4. Prinsip Pelaksanaan Program
Program IPM dirumuskan dan dilaksanakan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Prinsip Ketauhidan; maksudnya program IPM hendaknya merupakan perwujudan dari iman dan tauhid kepada Allah
b. Prinsip Kerahmatan; maksudnya program IPM hendaknya merupakan penjabaran dan pelaksanaan dari fungsi rahmatan lil alamin
c. Prinsip Kerisalahan; maksudnya program IPM hendaknya merupakan penjabaran dan pelaksanaan dari fungsi kerisalahan umat Islam, yaitu dakwah amar makruf nahi munkar dalam arti yang luas
d. Prinsip Kemaslahatan; maksudnya program IPM hendaknya memperhatikan kemaslahatan umum
e. Prinsip Keilmuan; maksudnya program IPM direncanakan dan dilaksanakan secara rasional dengan memperhatian dan memanfaatkan secara ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan
f. Prinsip Kekaderan; maksudnya program IPM selalu dijiwai nilai-nilai kekaderan. Semua yang dilakukan IPM dalam rangka proses kaderisasi yang bersifat pemberdayaan anggota
g. Prinsip Kemandirian; maksudnya program IPM direncanakan dan dilaksanakan secara mandiri dengan tujuan menciptakan kemandirian pelajar.
h. Prinsip Kreativitas; maksudnya program IPM hendaknya merupakan penjabaran dan pelaksanaan dari fungsi kekhalifahan umat Islam dalam mengelola kehidupan secara kreatif
i. Prinsip Kemanusiaan; maksudnya program IPM direncanakan dan dilaksanakan tidak secara ekslusif. Artinya orientasi program IPM selalu diarahkan untuk kemanusiaan, tanpa memandang suku, agama, ras, dan budaya.


Tujuan Program Jangka Panjang (Visi IPM 2024)


Program IPM Jangka Panjang adalah suatu tahapan pencapaian tujuan IPM itu sendiri. Secara spesifik rumusan tujuan Program Jangka Panjang sebagai Visi IPM 2024 adalah: “Membumikan Gerakan Pelajar Berkemajuan dengan Menjadikan IPM sebagai Rumah Minat dan Bakat Pelajar Indonesia disertai Nilai-nilai.
Ajaran Islam sebagai Komponen Masyarakat Islam yang Sebenar-Benarnya ”, yang ditandai dengan:

a. Tebentuknya sistem gerakan IPM sebagai gerakan pelajar Indonesia yang unggul di bandingkan gerakan-gerakan pelajar lain dalam melaksanakan misi dakwah dan pencerdasan yang ditunjukkan dengan sistem gerakan yang maju, profesional, modern yang dilandasi nilai keikhlasan dan komitmen penggerakknya, disertai dengan pemahaman ideologi, paradigma, dan visi gerakan IPM yang didalam individu-individu teraktualisasi nilai-nilai publik dan sosial dalam ruang organisasi.

b. Terbentuknya sistem manajemen organisasi dan kepemimpinan kolektif-kolegial yang efektif, produktif, dinamis sehingga mampu menghadirkan keteladanan, memproyeksikan masa depan (berkemajuan) untuk perubahan dengan memobilisasi seluruh potensi pelajar Indonesia untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berkualitas dengan meningkatnya kehidupan keagamaan, moralitas, keilmuan, dan etos kerja kemanusiaan.

c. Terbentukknya model dan pola jaringan pada level komunitas, keummatan, kebangsaan dan cita-cita menuju peradaban global dengan mendorong berkembangnya fungsi-fungsi kekuatan sosial dan pemerintahan yang menjamin terwujudnya kehidupan bangsa dan negara yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat di bawah naungan ridha Alah SWT (baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur).

d. Terbentukknya sumberdaya sebagai wahana melahirkan generasi Islami yang berkemajuan (sumberdaya manusia) ditandai dengan sistem kaderisasi yang berkelanjutan dan anggota organisasi sebagai subyek gerakan serta transformasi kader di berbagai lini kehidupan, juga tersedianya modal bagi berjalannya roda organisasi yang berorintasi sosial (sumberdaya finansial), serta membangun tatanan infrastruktur seperti sistem informasi,komunikasi dan karya yang memadai untuk keberlangsungan IPM.

e. Terbentuknya kesadaran bahwa IPM dalam melakukan aksi dan pelayanan ialah sebagai wahana dakwah di dunia pelajar, baik lewat karya kreatif, program dan kegiatan unggul yang sesuai dengan kebutuhan pelajar Indonesia. Sehingga nilai-nilai ajaran Islam dan tumbuhnya kesadaran sebagai warga dunia yang lebih luas akan keutamaan kehidupan Islami, yang menjamin terciptanya tatanan kehidupan (pergaulan) yang utama di segala bidang kehidupan sebagai wujud kehadiran Islam yang bersifat rahmatan lil’’alamin.


Tahapan Kebijakan Program


Pokok kebijakan program jangka panjang merupakan pedoman dan arah gerak Persyarikatan yang dilaksanakan secara bertahap melalui program dua (2) tahunan selama sepuluh (10) tahun. Tahapan-tahapan program jangka panjang tersebut adalah sebagai berikut.

a. Muktamar XVIII (2012-2014) : diarahkan kepada penumbuhan kesadaran kritis dan aksi kreatif pelajar serta penjagaan karakter pelajar dengan paradigma gerakan pelajar berkemajuan menuju gerakan yang kritis dan progresif.

b. Muktamar XIX (2014-2016): diarahkan kepada pembangunan kekuatan dan kualitas pelaku gerakan, ideologi gerakan IPM dengan mengoptimalkan sistem perkaderan sebagai pendukung terwujudnya “Gerakan Pelajar Berkemajuan” dan berorientasi ke masa depan, sehingga IPM memiliki sumberdaya yang siap menjadi aktor dan subyek gerakan.

c. Muktamar XX (2016-2018) : diarahkan kepada IPM sebagai gerakan ilmu sebagai manifestasi Gerakan Pelajar Berkemajuan yang unggul di kalangan pelajar serta terciptanya tradisi dan habitus iqra’ di dunia pelajar sebagai faktor-faktor pendukung bagi terwujudnya masyarakat utama yang berperadaban.

d. Muktamar XXI (2018-2020), diarahkan kepada pembangunan komunitas kreatif sebagai strategi kultural Gerakan Pelajar Berkemajuan untuk melakukan transformasi individu, transformasi sosial, dan transformasi kebudayaan di tengah masyarakat global.

e. Muktamar XXII (2020-2022), diarahkan transformasi (perubahan cepat ke arah kemajuan) dan terciptanya seluruh elemen sistem organisasi dan jaringan IPM yang maju, profesional, dan modern; berkembangnya sistem kaderisasi, gerakan ilmu, serta peningkatan dan pengembangan peran strategis IPM dalam kehidupan umat, bangsa, dan dinamika global.

f. Muktamar XXIII (2022-2024), diarahkan perjuangan pembentukan masyarakat ilmu sebagai cikal bakal terwujudnya tujuan Muhammadiyah, yaitu masyarakat Islam yang sebenar-benarnya atau masyarakat utama, yang bertujuan terbentuknya peradaban utama.


Sasaran Kebijakan IPM


Sasaran kebijakan IPM diarahkan pada dua, sasaran personal dan sasaran institusional. Berikut ini penjelasannya :
a. Sasaran Personal. Diarahkan pada terwujudnya tradisi kesadaran kritis-progresif dalam berfikir dan bertindak sesuai dengan maksud dan tujuan IPM.
b. Sasaran Institusional. Diarahkan pada terciptanya struktur kelembagaan yang kuat dan fungsional melalui pengembangan ranting serta mekanisme kepemimpinan yang mantap dalam mendukung gerakan Ikatan menuju gerakan ilmu yang berparadigma pelajar berkemajuan.



Hirarki Kebijakan


a. PP IPM
1) Penentu kebijakan organisasi secara nasional
2) Melakukan koordinasi dengan PW IPM Se-Indonesia
3) Melakukan kerja-kerja dalam lingkup menggagas nilai-nilai baru dan penguatan kapasitas kader IPM 4) Melakukan kerja – kerja aksi nyata untuk kemajuan Pelajar ditingkat nasional dan internasional
b. PW IPM
1) Menerjemahkan kebijakan-kebijakan Muktamar atau kebijakan yang telah diputuskan oleh PP IPM di tingkat wilayahnya
2) Mensosialisasikan keputusan-keputusan PP IPM atau keputusan bersama di tingkat nasional
3) Mengatur kebijakan-kebijakan strategis dalam lingkup kewilayahannya
4) Melakukan koordinasi dengan PP IPM dan konsolidasi dengan PD IPM-nya
5) Melakukan kerja-kerja konkrit di tingkat wilayah sebagai upaya pengembangan jaringan dan penguatan kapasitas pelajar dan organisasi.
c. PD IPM
1) Motor penggerak IPM secara daerah
2) Melakukan aksi-aksi riil yang telah menjadi keputusan Muktamar dan keputusan musywarah di atasnya 3) Selalu berkoordinasi dengan PW IPM dan konsolidasi dengan PC IPM atau PR IPM di tingkat daerahnya.
d. PC IPM
1) Melakukan aksi-aksi riil yang telah menjadi keputusan Muktamar dan keputusan musywarah di atasnya
2) Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang langsung tertuju dan bermanfaat pada sekolah dan kalangan pelajar.
3) Selalu berkoordinasi dengan PD IPM dan konsolidasi dengan PR IPM di tingkat daerahnya.
e. PR IPM
1) Melaksanakan kebijakan-kebijakan kongkrit yang telah menjadi keputusan Muktamar dan keputusan musywarah di atasnya.
2) Selalu berkoordinasi dengan PD IPM atau PC IPM-nya.


Indeks Progresivitas Gerakan IPM


Indeks Progresivitas Gerakan (IPG) IPM merupakan satu metode yang digunakan oleh IPM untuk mengukur keberhasilan sebuah organisasi dalam satu periode tertentu. Di sini, IPM telah merumuskan empat ranah yang menjadi tolok ukur keberhasilan gerakan IPM dalam setiap satu periodenya di berbagai jenjang struktur, baik dari Ranting hingga Pusat. Keempat ranah itu adalah ranah kepemimpinan, ranah kaderisasi, ranah program kerja, dan ranah produk. Masing-masing ranah memiliki indikator yang menjadi tolok ukur keberhasilan dari masing-masing ranah tersebut. Berikut ini penjelasannya:






RESOLUSI MARTAPURA

IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

Dari kota intan, Martapura
Sidang Tanwir Ikatan Pelajar Muhammadiyah menyampaikan resolusi optimalisasi gerakan keilmuan, kemandirian, dan keadilan sosial untuk mewujudkan pelajar berkemajuan sebagai berikut :

1. Sejak berdirinya Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dakwah amar makruf nahi munkar dikalangan pelajar menegaskan komitmen ikatan pelajar Muhammadiyah untuk menegakkan ajaran Islam dan ikut serta dalam membangun generasi berkemajuan dengan spirit membebaskan, memberdayakan, dan mencerdaskan
2. Dengan semangat nuun, walqolami wamaa yashturun, pelajar Muhammadiyah akan selalu berkomitmen untuk terus berkarya sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah gerakan Muhammadiyah
3. Gerakan iqra dengan mewujudkan komunitas literasi pelajar merupakan wujud jihad literasi ikatan pelajar Muhammadiyah sebagai tradisi habitus iqra pelajar berkemajuan
4. Gerakan kemandirian pelajar sebagai proses optimalisasi pemberdayaan segala bentuk potensi kreatif pelajar di setiap pimpinan
5. Adanya agen pendampingan teman sebaya merupakan wujud dari advokasi pelajar sebagai bentuk pendampingan sebayanya dalam membangun generasi yang berkemajuan
6. Hentikan segala bentuk pembatasan atas pengembangan kreativitas dan potensi pelajar guna mendorong generasi yang berkemajuan.
7. Kesadaran akan lingkungan harus menjadi ruh pelajar Muhammadiyah dalam menjaga keseimbang alam sebagai rahmat Allah yang maha kuasa.
8. Pelajar Muhammadiyah akan terus mendorong cikal bakal masyarakat madani yang berperan lebih luas sebagai perwujudkan masyarakat Islam yang sebenar – benarnya dengan habitus iqra sebagai dasar dan identitasnya.

Demikian resolusi optimalisasi gerakan keilmuan, kemandirian, dan keadilan sosial untuk mewujudkan pelajar berkemajuan sebagai semangat dan komitmen bersama kami untuk menjadikan IPM sebagai rumah minat bakat pelajar disertai nilai – nilai Islam sebagai komponen masyarakat Islam yang sebenar – benarnya.
Nuun Walqalami Wamaa Yasthuruun
Martapura, 9 Februari 2018

Baca juga:
Blog Post Lainnya
Social Media
Alamat
0813-2902-1460
0813-2902-1460
distroipm@gmail.com
Jalan Sultan Agung No.14 Wirogunan, Pakualaman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55151
Pembayaran via
Ekspedisi
@2019 Copyright Distro IPM Inc